Mari Berkampanye Linux yang Benar

Oleh : Donny B.U

Suatu ketika, saya sempat ditanya oleh seorang rekan saya, mengenai tujuan saya meluncurkan program Linux Sehat 3.3 (www.ictwatch.com/linux). Bahkan rekan saya tersebut menduga-duga, apakah saya sudah menjadi “orang Linux”. Saya sendiri sempat tertegun sejenak, apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah “orang Linux” tersebut. Lalu saya jelaskan kepada rekan saya tersebut, bahwa saya sejatinya orang yang “buta” tentang Linux dan tidak menggunakan aplikasi apapun yang berbasis pada Linux untuk aktifitas komputer-ria saya sehari-hari. Lalu mengapa saya “nekat” meluncurkan program Linux Sehat 3.3?

Salah satu alasannya adalah, saya ingin mencoba memberikan contoh kepada teman-teman di komunitas pengguna Linux, tentang strategi memperkenalkan dan memasyarakatkan Linux secara luas. Bukan berarti lebih tahu teman-teman tersebut, tetapi saya sekedar mencoba memberikan strategi alternatif, yang saya harapkan dapat bermanfaat. Pada intinya, strategi ini adalah dengan menggunakan pendekatan program komunikasi (kampanye), dengan mengambil sudut-pandang dari kacamata orang yang awam tentang Linux. Beberapa poin strategi program komunikasi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Hindari Komparasi.

Hindari melakukan komparasi kecanggihan dengan produk sejenis yang sudah lebih dahulu menguasa pasar. Saya kerap mengikuti acara seminar maupun workshop yang bertujuan untuk memperkenalkan Linux bagi para pemula. Dalam kegiatan tersebut, selalu saya dengar para nara sumber / pembicaranya membandingkan kecanggihan Linux dengan sistem operasi lainnya, semisal Microsoft Windows. Menurut saya, memperkenalkan suatu produk dengan cara membandingkannya dengan produk sejenis yang sudah menguasai pasar dan tertanam cukup kuat image-nya di masyarakat, justru akan memperlemah produk yang diperkenalkan tersebut. Windows sudah cukup lama bercokol dan mendominasi pangsa pasar sistem operasi di dunia, termasuk di Indonesia.

Jadi, membanding-bandingkan Linux dengan Windows, akan semakin mengentalkan posisi Linux yang minoritas. Lain halnya jika kita berbicara dengan orang teknis, atau saat melakukan presentasi kepada sebuah institusi, maka melakukan komparasi teknis antara Linux dengan Windows adalah suatu keharusan. Kalau pun perlu diperbandingkan ketika berbicara di depan masyarakat awam, cukuplah pada hal aplikasi serta fungsi-fungsinya. Tidak perlu perbandingan tersebut hingga ke masalah teknis, seperti resources yang dibutuhkan (memory, harddisk, dan sebagainya) hingga reliabilitas (hang, up time, dan sebagainya).

2. Jargon Familiar.

Gunakan jargon-jargon yang familiar di kuping. Acap kali ketika teman-teman Linux mengadakan workshop/seminar, selalu menggunakan judul seperti “optimalisasi”, “kompatibilitas”, “troubleshooting” dan sebagainya. Mungkin bagi sebagian kalangan, kata-kata tersebut tidaklah terlalu “berat” untuk dipahami. Tetapi bagi sebagian kalangan lagi, khususnya mereka yang awam tentang Linux atau pengguna komputer pemula, kening mereka akan berkerut beberapa saat. Syukur-syukur, setelah kening mereka berkerut, mereka kemudian tertarik.

Ada kalanya, jargon-jargon teknis tersebut malah akan menjadi barrier to entry atau hambatan secara psikologis bagi para pemula untuk mengenal Linux. Gunakanlah kata-kata yang cukup familiar di kuping mereka. Program Linux Sehat, mencoba menggabungkan kata “Linux” dengan kata yang tidak asing di kuping masyarakat umum. Kata “sehat” tentu lebih familiar dan unik di kuping orang awam, ketimbang “troubleshooting” misalnya. Tentu masih banyak padanan kata lainnya yang dapat kita manfaatkan.

3. Minimalkan Instalasi.

Usahakan memulai perkenalan tidak dari proses instalasi. Kita harus ingat, bahwa mayoritas pengguna komputer di Indonesia saat ini, kenal dan terbiasa menggunakan Windows bukan berawal dari proses instalasi. Mereka mengenal Windows adalah karena “jasa baik” para penjual komputer yang menginstalkan Windows secara cuma-cuma, sebagai “bonus” atas transaksi pembelian komputer. Jadi, mereka mengenal Windows adalah karena “default” dari komputer tersebut adalah Windows, tanpa perlu mereka bersusah-payah belajar menginstal ataupun menginstal Windows sendiri di rumah.

Jadi, jika kita memperkenalkan Linux dari proses instalasi, maka bagi kebanyakan orang hal tersebut akan dianggap “njlimet” dan rumit, walaupun faktanya tidak demikian. Presepsi yang terbangun dari kata “instal” tersebut, akan dapat menyurutkan niat orang untuk mengenal Linux. Untuk itu, maka kita perlu menempuh jalan yang sama seperti ketika mereka pertama kali mengenal Windows, yaitu langsung pakai dan dikenalkan dengan fungsi aplikasi di dalamnya, tanpa seminim mungkin melakukan proses instalasi. Jika akhirnya mereka sudah mulai kenal dan tertarik dengan Linux, barulah langkah berikutnya adalah dengan mengajarkan proses instalasinya.

4. Berikan Pilihan.

Pahami kebutuhan masyarakat, dan berikan pilihan. Cukup sering saya mendapatkan kesan bahwa beberapa teman Linux sangat gigih untuk “memperjuangkan” Linux-nya. Saking gigihnya, sampai-sampai mereka terkadang lupa untuk mengkaji apa yang sebenarnya masyarakat butuhkan. Pokoknya, Linux for all dan all for Linux. Agresifitas yang hantam kromo seperti ini bukannya akan mendapatkan tambahan pengguna Linux yang signifikan, tetapi dapat mengurangi rasa simpatik masyarakat. Jika kita ingin mendapatkan simpati dari masyarakat dan sekaligus mengajak masyarakat tersebut untuk mau berkenalan dan menggunakan Linux, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah berdialog tentang kebutuhan mereka.

Cobalah untuk melakukan pendekatan berdasarkan “apa yang mereka butuhkan”, bukan dengan “apa yang saya inginkan”. Setelah kita mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan mereka, barulah kita susun strategi atau penawaran yang tepat dengan kondisi mereka. Yang pasti, kalau yang mereka butuhkan adalah tetap Windows, maka anjurkan kepada mereka untuk menggunakan yang asli / berlisensi. Tetapi jika kebutuhan mereka tersebut bisa dan mudah ditemukan di Linux, maka sarankan kepada mereka untuk menggunakan Linux. Ingatlah, “bisa” dan “mudah” tersebut harus dari kacamata mereka.

Menurut saya, tidak ada sistem operasi yang memiliki seluruh keunggulan dibandingkan dengan sistem operasi yang lain. Oleh karena itu, berilah pilihan kepada masyarakat, dengan menyodorkan serangkaian informasi yang akurat, komprehensif dan tidak saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

~ oleh gandhiprima pada 17 November, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: